Pages

Senin, 17 Maret 2014

Cagar Budaya Megalitik Masyarakat Alor



Dalam sejarah negeri ini, barangkali kita belum pernah mendengar, jika peningggalan atau benda-benda prasejarah mendapat tempat yang terhormat di kelompok masyarakat di suatu daerah. Kalaupun mendengar, tidak lain berasal dari himpunan masyarakat alor, suatu masyarakat yang terbentuk dalam klen/marga yang mengikuti garis keturunan ayah.
Alor adalah sebuah kabupaten di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), terletak paling timur dalam gugusan kepulauan di sebelah utara wilayah NTT. Julukan pulau Alor juga disebut pulau kenari, pulau Alor juga dikenal sebagai pulau seribu Moko. Kabupaten ini terdiri dari 3 pulau besar, yakni pulau Alor, pulau Pantar, dan pulau Pura, dan sejumlah pulau-pulau kecil tidak berpenghuni ini, memiliki keunikan tersendiri sebagai satu kesatuan dari sebuah daerah administratif. Keunikan inilah yang sempat membuat Magelhaens menyinggahinya, saat berlayar kembali dari Maluku menuju Eropa pada tanggal 12 Januari 1522. Ada cirri khas yang menarik dari masyarakat daerah tersebut, yakni mas kawin. Mas kawin yang dimiliki tidak seperti mas kawin yang umumnya digunakan di daerah lain di NTT. Di NTT, umumnya menggunakan hewan piaraan sebagai mas kawin. Namun tidak demikian dengan masyarakat Alor, masyarakat Alor menggunakan peninggalan benda nenek moyang sebagai mas kawin. Benda yang digunakan mas kawin itu disebut masyarakat setempat dengan nama Moko.
Penggunaan Moko sebagai mas kawin telah berlangsung selama ratusan tahun. Menurut para arkeolog, Moko digunakan oleh masyarakat setempat sejak abad-14 Masehi. Nenek moyang mereka mengawali penggunaan moko sebagai alat tukar, maupun sebagai alat kesenian dalam upacara adat. Dan pada abad-17 Masehi, Moko digunakan oleh Nenek moyang mereka sebagai mas kawin. Penggunaan Moko sebagai mas kawin dalam lingkungan masyarakat adat Alor berlangsung terus hingga sekarang. Posisi Moko sebagai mas kawin sulit, sulit tergantikan oleh benda apapun.
Moko dipercaya sebagai alat yang dapat mengikat tali perkawinan mereka sampai kapanpun. Karena banyaknya pemburuan barang antik yang siap menadah dibawa ke Bali dan seterusnya ke luar negeri, maka jumlah Moko dari waktu ke waktu semakin berkurang. Sejalan dengan pemikiran Herskovits, maka Moko ataupun fungsinya adalah hasil dari kebudayaan begitulah kira-kira. Karena menurutnya benda atau apapun yang termasuk di dalamnya perilaku manusia yang telah berlangsung turun menurun oleh sekelompok masyarakat disebut dengan Kebudayaan.
Kendatipun Moko dianggap sebagai benda yang sakral dan bermakna bagi masyarakat setempat, Moko bukanlah karya terampil dari Nenek moyang mereka. Moko berasal dari daerah Dongson, Vietnam Utara. Moko mulai banyak diproduksi pada kisaran abad-12 Masehi, dan barangkali sampai di Alor akibat persinggungan kebudayaan India yang begitu kuat, seiring dengan masuknya kerajaan Hindu-Budha ke Indonesia. Bagi masyarakat Alor sendiri, sepertinya tidak terpengaruh dengan telaah-telaah ilmiah dengan asal-asul Moko. Bagi mereka Moko berasal dari tanah atau terbentuk dengan sendirinya. Memang terkesan mistik, apalagi anggapan tersebut semakin kuat ketika pada tanggal 20 agustus 1972, moko dengan berukuran besar ditemukan di dalam tanah oleh bapak Simon J Baloldi di desa Kokar, sesuai dengan petunjuk mimpinya. Anggapan tersebut terlalu kuat melekat hingga kini, anggapan tersebut tidak hanya dianut oleh masyarakat adat, tetapi juga kaum intelektual.
Moko terbuat dari perunggu berbentuk drum dengan diameter 40cm-60cm dan tinggi 80cm-100cm, Di sekujur tubuhnya terdapat hiasan tradisional yang bervariasi mencerminkan tahun pembuatannya dan juga mencerminkan kebudayaan asalnya. Orang Alor bisa membedakan sangat baik setiap jenis Moko berdasarkan ragam hias, bentuk, dan ukurannya. Secara umum Moko dapat dibedakan menjadi dua, Moko yang diproduksi sebelum ada pengaruh Hindu di Indonesia dan Moko yang diproduksi sesudah ada pengaruh Hindu. Moko adalah benda masa silam yang lahir dari tangan terampil Nenek moyang. Di zamannya, Moko berfungsi sebagai alat musik tradisional yang digunakan pada waktu upacara adat dan acara kesenian lainnya. Selain itu Moko juga dipakai alat tukar-menukar barang. Dan yang tertinggi, sebagai mas kawin untuk meminang calon mempelai perempuan serta sebagai simbol status sosial masyarakat Alor.
Ada banyak jenis-jenis Moko yang terdapat di daerah ini yakni :
· Moko Jawa Telinga Utuh cap Bintang dan cap Satu Bunga
· Moko balektaha cap Bengkarung
· Moko Malayfana Palili dari Alor Timur
· Moko Makassar Bunga Kemiri Tangan Panjang
· Moko Aimala Kumis Besar
· Moko cap Naga
· Moko cap Bulan Paria
Benda-benda bersejarah ini menyebar di sejumlah kecamatan misalnya :
· Moko Pung di Kecamatan Pantar
· Moko Jawa di Kecamatan Alor Timur dan Alor Selatan dan
· Moko Habartur Piku di Kecamatan Alor Barat Laut
Seseorang peneliti asing Cora Dubois, menjelaskan 4 fungsi Moko yaitu pertama, Moko sebagai simbol status sosial. Memiliki jumlah dan jenis Moko tertentu menunjukan status sosial seseorang dalam masyarakat. Misalnya Moko Malei Tana atau Moko Itkira. Kepemilikan Moko ini mempunyai status sosial yang cukup tinggi dan terpandang. Bahkan orang yang memiliki Moko ini dalam jumlah tertentu akan berpengaruh dalam setiap kepemimpinan tradisional. Kedua, Moko sebagai peralatan belis atau mas kawin. Seorang pria yang hendak menikah menyerahkan sejumlah Moko kepada keluarga perempuan calon istri. Kaun bangsawan menggunakan Moko Malei Tana sebagai Mas Kawin. Orang biasa menggunakan Moko Malei Utangpei yang disebut delapan bobak.
Ketiga, Moko sebagai alat tukar ekonomi. Sejak dahulu orang Alor mengenal Moko sebagai alat tukar seperti uang. Dalam hal ini Moko dapat di tukar dengan barang tertentu secara barter. Hal inilah yang menyebabkan inflasi pada zaman pemerintahan kolonial Belanda sehingga Belanda membuat sistem baru dengan membatasi peredaran Moko. Keempat, Moko sebagai alat Musik. Moko dapat menggantikan fungsi tambur yang terbuat dari kulit kayu dan kulit hewan. Alat musik Gong dan Moko biasa dimainkan untuk pengiring tari-tarian. Dalam perspektif orang Alor, Gong yang berbentuk plat dalam posisi telungkup adalah lambang kewanitaan. Sedangkan Moko berbentuk bulat dalam posisi berdiri adalah lambang kejantanan.

Sumber Disini

0 komentar:

Posting Komentar